Talhotblond




Sahabat anehdidunia.com Thomas Montgomery adalah pria menikah yang telah memiliki dua anak, berumur 47 tahun yang berasal dari New Hampshire. Tetapi hal ini tidak diberitahukan pada “Talhotblond,” teman chatting berusia 18 tahun yang dia temui di ruangan chatting Pogo. Dia mengatakan bahwa dirinya adalah mantan prajurit Perang Iraq remaja yang bernama Tommy. Keduanya memiliki hubungan yang cukup intim. “Talhotblond,” yang dikenal dengan nama “Jessi,” mulai mengirimkan foto-foto polosnya kepada Thomas.


Dalam salah satu kisah cinta yang berakhir dengan pembunuhan ini, ternyata Montgomery haus akan perhatian dan ketagihan dengan efek dari cybersex, Montgomery mulai memamerkan hal tersebut kepada teman-temannya. Tetapi semuanya hancur saat istrinya mengetahui hal tersebut. Istrinya tersebut lalu mengirimkan surat ke Jessi, dan menjelaskan semuanya. Karena merasa ngeri, Jessi memutuskan hubungannya, dan mulai menjalin hubungan dengan rekan kerja Montgomery, Brian Barrett yang berusia 22 tahun.


Salah satu kisah cinta yang berakhir dalam pembunuhan ini mulai memanas, dimana Thomas merasa sangat marah. Pria tersebut menjadi kasar, dan mengirimkan pesan mengganggu ke Jessi, yang berisikan, “Brian akan membalas hal ini dengan darah.” Dan saat Montgomery mengetahui bahwa Barrett berencana mengunjungi Jessi di West Virginia, dia memutuskan untuk membunuh Brian. Pada 15 September 2006, Barrett yang duduk dimobilnya, ditembak oleh Montgomery. Saat polisi mengetahuinya, mereka memutuskan untuk memperingati Jessi, karena mungkin saja dia yang akan menjadi korban selanjutnya.


Meskipun begitu, saat pihak berwajib tiba di rumah “Talhotblond,” mereka menemui Mary Shieler, seorang wanita paruh baya, yang memiliki anak perempuan bernama Jessi. Tetapi Jessi ini tidak pernah mengetahui tentang Montgomery dan Barrett. Ternyata, sang ibulah yang menjadi “Jessi,” dan berpura-pura menjadi anak perempuannya.


Tentu saja, polisi tidak memiliki dasar hukum untuk menangkap Shieler, tetapi tidak dengan Montgomery, yang pada akhirnya menghabiskan 20 tahun dipenjara. Meskipun begitu, kehidupan Mary Shieler ini juga tidak lebih baik. Saat suami dan anak perempuannya mengetahui tentang kasus ini, keduanya meninggalkan Shieler, tanpa ada kabar sama sekali.


Cannibal Cafe




Armin Meiwes, warga Jerman ditangkap polisi pada bulan Desember 2002 atas tuduhan pembunuhan di Internet. Pada tanggal 30 Januari 2004, dia dijatuh hukuman penjara 8 tahun di penjara. Kasus ini mendapat perhatian yang besar di media, karena beberapa alasan, pertama Meiwes melakukan pembunuhan lalu memakan korbannya. Kedua, korban bersedia untuk dimakan. Biasanya Meiwes akan memposting iklan di sebuah situs yang disebut dengan nama The Cannibal Cafe. Website ini dikunjungi orang-orang yang memiliki fetish terhadap kanibalisasi. Kasarnya merasa terangsang ketika dimakan, atau merasa terangsang karena memakan orang.


Singkat cerita, Meiwes posting di situs untuk mencari orang yang berusia 18 hingga 30, yang siap untuk dibunuh dan di makan. Salah satu korban awal bernama Bernd Jurgen Armando Brandes memenuhi iklan tersebut. Beberapa orang lainnya juga tertarik dengan iklan tersebut. Tetapi belakangan mereka mengundurkan diri. Meiwes mengaku dia tidak memaksa mereka melakukan sesuatu di luar kehendak mereka. Kembali ke cerita, Brandes pun pergi ke rumah Meiwes tanggal 9 Maret 2001. Di sana mereka merekam kegiatan mereka. Meiwes memotong penis Brandes, dan dua lelaki itu mencoba memakan penis berbarengan sebelum Brandes menemui ajalnya.


Awalnya Brandes meminta agar Meiwes mencoba menggigit putus kemaluannya. Namun karena gagal, akhirnya menggunakan pisau. Branes sendiri mencoba memakan barang miliknya sendiri secara mentah-mentah, namun karena terlalu kenyal akhirnya gagal. Meiwes sendiri mencoba memasak organ kemaluan sang korban, memberi bumbu dan mencoba memasak dengan menggunakan lemak tubuh Brandes. Namun karena gosong, akhirnya diberikan ke anjingnya.


Semua kejadian di atas direkam. Di dalam sidang para hakim dan pengunjung bisa melihat, Brandes terlalu lemah untuk memakan akibat kekurangan darah cukup banyak. Meiwes sendiri duduk sambil membaca buku selama tiga jam, membiarkan Brandes tergeletak di dalam kamar mandi. Meiwes memberikan alkohol dan obat pereda sakit, puluhan pil obat tidur. Dan akhirnya menciumnya kemudian menusuk tenggorokan Brandes hingga tewas. Dia menggantungkan mayat Brandes di pengait daging, dan semenjak itu dia memakan daging itu selama 10 bulan. Menyimpan sebagian daging ke lemari es, sisanya ke kotak pizza.


Sugar Baby




Kisah ini berawal dari Alix Catherine Tichelman "Sugar Baby" mempunyai nama online "model with Demons" dan menggunakan website Seeking Arrangements untuk bertemu dengan salah seorang eksekutif Google. Dan yang membuat kisah ini tenar karena Forrest Timothy Hayes, salah satu petinggi Google, ditemukan tewas di dalam Yacht mewah miliknya. Sebelum meninggal ia diketahui tengah kencan bersama wanita penghibur kelas atas yang dikenal dari sebuah situs online.


Menurut kepolisian setempat, Hayes (51 tahun) terlibat ‘kontrak asmara’ dengan Alix Catherine Tichelman, wanita penghibur berusia 26 tahun. Singkat cerita kemudian keduanya sepakat untuk bertemu di dalam kapal pribadi milik Hayes. Sahabat anehdidunia.com melalui rekaman CCTV yang berada di kapal, polisi melihat bahwa Tichelman datang dengan membawa sejumlah heroin lengkap dengan jarum suntik. Wanita berambut pirang itu kemudian merayu Hayes untuk ikut menikmati heroin bersamanya.


Namun sesaat setelah jarum suntik masuk ke dalam urat nadi Hayes, pria berbadan tambun itu langsung ambruk. Polisi menduga bahwa tubuhnya menolak aliran heroin yang begitu banyak. Alih-alih menelepon pihak berwajib, Tichelman justru terlihat santai menghilangkan semua jejak dirinya di dalam kapal. Bahkan ia sempat menenggak anggur sebelum akhirnya menutup tirai jendela dan pergi meninggalkan kapal. Keesokan harinya jasad Hayes ditemukan oleh otoritas pelabuhan setempat. Polisi langsung dipanggil untuk melakukan penyelidikan.


Swipe Out




Kencan online yang berujung kematian seorang gadis cantik menyita perhatian publik Australia. Kencan yang dilakukan melalui aplikasi Tinder itu berakibat fatal, korban bernama Warriena Wright meninggal dunia setelah terjatuh dari lantai 14 apartemen sang kekasih. Pengadilan beberapa hari lalu memutuskan kalau tersangka bernama Gable Tostee tidak bersalah dan dibebaskan. Namun masih ada beberapa pihak meyakini Tostee bertanggungjawab atas kematian Wright.


Kisah tragis ini terjadi dua tahun lalu. Wright yang asal Selandia Baru dan Tostee berjumpa secara fisik pada 7 Agustus 2014. Mereka bertemu pertama kali di internet seminggu sebelumnya, melalui aplikasi Tinder yang belakangan populer untuk mencari jodoh. Wright berada di Australia menghadiri pernikahan seorang teman. Seminggu berkenalan dengan bertukar pesan, mereka memutuskan bertemu di dunia nyata, di resort pinggir laut bernama Surfers Paradise. Mabuk asmara, mereka berdua melanjutkannya di apartemen Tostee yang berlokasi di Gold Coast, Queensland.


Tapi kencan itu malah berujung tragedi. Beberapa jam kemudian, Wright terjatuh dari lantai 14 apartemen tersebut dan meninggal dunia seketika. Polisi pun menetapkan Tostee sebagai tersangka. Bukti utama kasus ini adalah rekaman sepanjang 199 menit di ponsel Tostee. Sahabat anehdidunia.com Tostee rupanya sengaja merekam saat-saat mereka bertengkar hebat sampai jatuhnya Wright dari balkon. Jaksa menyatakan Tostee membuat Wright sangat ketakutan dan melakukan intimidasi, sehingga dia mencoba lolos dengan memutuskan turun dari balkon di mana dia dikunci dari dalam oleh Tosteen. Namun malang ia terjatuh sampai tewas.


Pengacara Tostee menandaskan bahwa apa yang dilakukan kliennya sudah tepat dan dia tidak berperan dalam kematian Wright. Sebab, Wright lah, dalam keadaan mabuk, yang pertama kali melakukan serangan fisik pada Tostee. "Kejadian ini memang tragedi, tapi bukan pembunuhan," kata sang pengacara. Setelah proses pengadilan yang melelahkan, Tostee akhirnya diputuskan tidak bersalah alias bebas belum lama ini. Ia dinyatakan tidak berperan secara aktif dalam kematian Wright.