Edward Jenner Pencipta Vaksin Cacar Tahun 1796


Pada awalnya, di tahun 1796, seorang ilmuwan asal negara Inggris yang benama Edward Jenner ini melakukan eksperimen uji coba pada proses penelitian terhadap penyakit cacar, yang pada waktu itu penyakit ini adalah ancaman yang mengerikan pada umat manusia. Penelitiannya sangat sederhana, dia hanya meneliti seorang peternak sapi yang kondisinya sehat, dan si peternak sapi memerah susu pada seekor sapi yang sudah terinfeksi cacar sapi. Bermula dari penelitiannya itu, Edward mengambil sejumlah cairan dari luka seekor sapi yang terkena cacar itu, yang kemudian dia tularkan cairan pada seorang anak yang berumur 8 tahun yang juga sedang menderita cacar. Kemudian ternyata anak itu perlahan bisa sembuh dari cacarnya itu. Bermula dari saat itu, Edward menamai penemuannya itu dengan nama "vaksin", yang dalam bahasa latin artinya adalah seekor sapi.


Louis Pasteur Menciptakan Vaksin Rabies Tahun 1880


Jauh sebelum Louis menemukan jenis vaksin ini, beliau terlebih dahulu merancang sebuah konsep dan sebuah teori. Di mana konsep serta teori itu mengkaji tentang bagaimana vaksin akan bekerja pada penyakit yang terkait. Kemudian dari perancangan konsepnya itu, Louis berpendapat bahwasanya gejala infeksi itu diakibatkan karena adanya mikroorganisme yang hidup. Sehingga dari teori dan penemuannya ini, Louis juga menyatakan bahwasanya jenis vaksin yang akan dia ciptakan ini bisa melindungi manusia dari serangan penyakit tertentu. Dengan cara menyuntikkan sekumpulan mikroorganisme yang dia temukan itu ke dalam tubuh yang terinfeksi, maka mikroorganisme itu bisa dilemahkan kekuatannya dengan beberapa alasan tertentu.


Vaksin rabies untuk pertama kali sengaja disuntikkan kepada tubuh manusia di pertengahan tahun 1885, di mana saat itu yang menjadi percobaan adalah seorang anak yang berusia 9 tahun dengan nama Joseph Meister. Di mana sebelumnya anak itu sudah terinfeksi rabies karena digigit oleh seekor anjing gila. Percobaan Louis itu ternyata berhasil, Louis berhasil membuat anak itu bisa sembuh dari kondisi terinfeksi oleh virus rabies. Namun, beberapa pihak sempat menentang keberadaan vaksin ini, karena penggunakan mikroorganisme yang berasal dari objek yang sudah terkena rabies.


Emil von Behring Dan Kitasat Penemu Vaksin Difteri dan Vaksin Tetanus Tahun 1890


Kedua ilmuwan itu adalah para ilmuwan yang berasal dari negara Jerman. Di mana setelah melakukan penelitian beberapa lama, mereka akhirnya berhasil menciptakan vaksin antitoksin yang diperuntukan bagi penyakit difteri serta penyakit tetanus. Sahabat anehdidunia.com penemuan vaksin ini kemudian diuji cobakan pada beberapa ekor tikus, kepada marmut, serta pada kelinci. Vaksin antitoksin yang berhasil dihasilkan oleh beberapa hewan percobaan itu kemudian kembali disuntikkan kepada beberapa hewan yang memang belum diimunisasi sebelumnya, dan sudah dalam kondisi terinfeksi oleh sejumlah bakteri yang mematikan.


Kemudian, sejumlah hewan yang sedang sakit itu ternyata bisa disembuhkan, yaitu dengan cara pemberian serum yang ditemukan sebelumnya itu. Secara serta merta, kandungan racun dan sejumlah bakteri berbahaya itu perlahan tidak lagi bersifat berbahaya, sehingga penemuan serum itu berhasil membuktikan bahwa vaksin yang ditemukan memang benar-benat berhasil. Yang kemudian penemuan serum itu dikembangkan hingga beberapa tahun setelahnya, dan ternyata berhasil menyembuhkan para pasien yang terinfeksi penyakit Difteri serta penyakit Tetanus.


John Salk dan Albert Sabin Menemukan dan Mengembangkan Vaksin Polio Tahun 1955


Jhon Salk merupakan seorang ilmuwan pencetus yang telah berhasil menguji penelitian vaksin polio, dia membunuh sejumlah jenis virus yang mematikan, lalu kemudian menyuntikkan virus yang sudah jinak itu menuju aliran darah seorang manusia. Jhon juga melakukan sebuah percobaan pada sebuah vaksin ciptaanya dengan cara menyuntikkannya kepada seorang lelaki yang memiliki riwayat penyakit polio. Tidak hanya itu, Jhon juga melakukan percobaan dengan menyuntikkannya kepada tubuhnya sendiri dan keluarganya. Sahabat anehdidunia.com sampai akhirnya, pada awal musim di tahun 1953, Jhon kemudian kembali mengumumkan hasil dari temuannya itu, dengan melalui jaringan radio taraf nasional. Setelah masa itu, vaksin polio hasil temuan Jhon mulai semakin banyak dimanfaatkan oleh dunia kedokteran, karena memang diakui sangat aman serta sangat efektif untuk menanggulangi penyakit polio. Kemudian, di pertengahan tahun 1954, jenis vaksin polio ini dipatenkan oleh Jhon, dan hal itu dia manfaatkan untuk mengkampanyekan tentang pentingnya peran imunisasi. Selama tidak lebih dari lima tahun, kasus penyakit polio dinyatakan menurun sebanyak 90%.


Namun, vaksin yang ditemukan Jhon itu dianggap kurang melengkapi kekuatan imunisasi, atau dianggap kurang menyeluruh pada kompleksnya virus polio. Yang kemudian di tahun 1961, ada seorang ilmuwan bernama Albert Sabin yang melengkapi penemuan Jhon. Albert berhasil menemukan vaksin jenis oral, yang bisa untuk mempermudah proses penggunanya. Vaksin oral yang dibuat Albert itu merupakan sejumlah mikroorganisme yang berasal dari virus itu sendiri, dalam keadaan masih hidup dan juga sudah dijinakkan. Vaksin oral ini dianggap sudah berjasa dalam melengkapi temuan vaksin dari Jhon Salk.


Robert Heinrich Hermann Koch Pencetus Vaksinasi pada Antraks


Robert Heinrich Herman Koch adalah seorang ilmuwan kenamaan yang dilahirkan di Clausthal, Jerman, pada tanggal 11 Desember tahun 1843. Beliau wafat pada tanggal 27 Mei di Karlsruhe, di usia 66 tahun. Beliau tercatat sebagai ilmuwan pencetus dalam dunia bakteriologi modern. Beliau dianggap sangat berjasa karena keberhasilannya di dalam mengidentifikasi keberadaan agen yang menyebabkan penyakit TB, penyakit kolera, dan penyakit Antraks. Sahabat anehdidunia.com selain itu studi mendalamnya terhadap penyakit-penyakit itu, di dalam laboratoriumnya Koch berhasil membuat sejumlah penemuan yang menjadi “kunci” penting yang berkaitan erat dengan dunia kesehatan masyarakat dunia. Penelitiannya itu menghasilkan deretan “Postulat Koch”, di mana isinya adalah empat prinsip pokok yang berhubungan erat dengan spesifikasi mikroorganisme untuk jenis penyakit tertentu. “Postulat Koch” itu sampai hari ini masih menjadi acuan dan standar pokok internasional dalam dunia medis dan dunia mikrobiologi. Dari hasil terobosan dan penelitiannya terhadap penyakit TB dan Antraks itu, Koch mendapat Hadiah Nobel untuk dunia kedokteran di awal tahun 1905.