Bahasa Chamicuro atau Bahasa Chamicolo


Fakta mencatat bahwa di dunia ini hanya ada 8 orang saja yang masih memakai bahasa Chamicuro untuk berkomunikasi. Bahasa yang satu ini memang pada kenyataannya hanya digunakan di wilayah Perusaja, serta pada saat ini bahasa ini statusnya adalah kritis alias nyaris hilang dari peradaban manusia. Hal itu dikarenakan sudah sebagian besar para penduduk di wilayah terkait tidak menggunakan bahasa ini lagi, dan sejumlah kecil orang yang masih memakai bahasa ini adalah orang-orang yang usianya sudah sangat tua.


Sehingga, tidak ada satupun generasi muda di wilayah itu yang masih menggunakan bahsa ini untuk berkomunikasi. Penduduk di wilayah itu saat ini sudah memakai bahsa Spanyol untuk sarana berkomunikasi sehari-hari. Sedikit info, jika para sahabat AnehdiDunia.com ingin mengetahui bagaimana cara mengucapkan beberapa macam hewan dalam bahasa Chamicuro, ini contohnya : “kawali” untuk hewan kuda, “polyo” untuk hewan ayam, “Pato” untuk bebek, dan “ma’nali” untuk hewan anjing.


Bahasa Dumi atau Bahasa Ro’do Bo


Bahasa yang nyaris punah selanjutnya adalah bahasa Dumi. Bahasa ini dulunya banyak dipakai di sebuah wilayah di pinggiran sungai Tekan, Nepal. Bahsa Dumi ini tercatat juga pernah dipakai di daerah pegunungan Kabupaten Khotang, Nepal sebelah timur. Sampai saat ini hanya tersisa 8 orang saja yang masih memakainya, dan lagi-lagi tidak ada satupun generasi muda yang bisa menggunakan bahasa ini, sehingga PBB pun menempatkan bahasa ini sebagai bahasa yang statusnya juga kritis, alias sangat terancam bisa punah selamanya.


Bahasa Ongota atau Bahasa Birale


Bahasa Ongota adalah sebuah bahasa Afro-Asia yang dulunya banyak dipakai di daerah Ethiopia, tepatnya di tepian sebelah barat Sungai Weito. Pada awal tahun 2008, para peneliti mencatat bahwa bahasa ini masih dipakai, namun penduduk asli yang masih memakainya hanya tersisa 6 orang saja, dan lagi-lagi orang-orang itu sudah berusia sangat tua. Hal inilah yang membuat bahasa Ongota menjadi sangat kritis serta terancam hilang dari peradaban. Namun, ada fakta bahwa bahsa Ongota ini tidak sama dengan kebanyakan jenis bahasa yang sudah nyaris punah lainnya. Seorang profesor yang mengajar di Universitas Addis Ababa, Ethiopia, dengan intens melakukan studi terhadap bahasa Ongota ini. Dari studi tersebut, sang profesor mengambil kesimpulan bahwa bahasa Ongota ini memiliki struktur yang berupa subyek, kemudian obyek, dan diikuti dengan kata kerja.


Bahasa Liki atau Bahasa Moar


Bahasa Liki merupakan bahasa yang berasal dari kepulauan di Pantai Utara Sarmi, tepatnya di Kabupaten Jayapura, Kecamatan Sarmi, Indonesia. Di pertengahan tahun 2007, sebuah studi berhasil membuktikan bahwa masih ada tersisa 5 orang yang masih memakai bahasa Liki. Pada era masa lalu, bahasa Liki ini sering dipakai oleh para petinggi atau pejabat gereja lokal di wilayah itu, namun kian kemari bahasa ini dianggap tidak efisien lagi, dan sehingga dinyatakan nyaris hilang dari peradaban manusia. Patut anda tahu, bahwa bahasa Liki ini asalnya dari percampuran beberapa bahasa, yaitu bahasa Austronesia, bahasa Malayo-Polynesia, bahasa Timur Tengah, bahasa Timur Malayo-Polynesia, bahasa Kelautan, bahasa Barat Kelautan, bahasa North New Guinea, bahasa Sarmi-Jayapura Bay, serta bahasa Sarmi. Sampai saat ini pemerintah Jayapura masih mengusahakan agar bagaimana caranya supaya bahasa Liki ini tidak hilang atau punah.


Bahasa Tanema atau Bahasa Tetawo


Bahasa ini asalnya dari Kepulauan Solomon, di mana dulunya bahasa Tanema ini banyak dipakai di beberapa tempat juga, seperti Pulau Vanikolo, kemudian di Propinsi Temotu, dan juga di desa kecil bernama Desa Emua. Menurut penelitian, pada saat ini, tersisa 4 orang saja di dunia yang masih aktif menggunakan bahasa Tanema. Tanema itu sendiri adalah sebuah jenis bahasa yang memiliki banyak campuran dari Austronesia serta Melayu-Polinesia Tengah-Timur. Pada masa peralihannya dulu, banyak penduduk asli setempat yang kemudian beralih memakai bahasa Pijin, di mana bahasa Pijin itu adalah salah satu bahsa yang sangat populer di wilayah kepulauan ini.


Bahasa Njerep Bantoid


Bahasa Njerep ini merupakan sebuah bahasa yang aslinya dari Nigeria. Bahasa Njerep ini dulunya pernah dipakai di daerah Kamerun, namun sekarang sudah tidak dipakai lagi sama sekali. Pada saat ini, bahasa Njerep sudah tergantikan oleh bahsa Mambila, yang memiliki dialek yang sangat sama sekali berbeda dengan bahasa Njerep itu sendiri. Sampai saat ini, hanya tersisa 4 orang saja di dunia ini yang masih menggunakan bahasa Njerep tersebut, itupun keempat orang itu adalah orang yang sudah berusia sangat tua. Sehingga ada kemungkinan yang besar bahwa bahasa Njerep ini akan mengalami kepunahan cepat atau lambat.