Proyek Chanology

Aksi-aksi terorganisir dari Anonymous dikenal sebagai ops (singkatan dari operasi). Beberapa ops bubar sendirinya sebelum sebuah situs internet berhasil dijebol. Namun operasi lain dapat menciptakan bencana online, yang membuat perubahan di dunia nyata bidang keuangan serta politik, yang kemudian menjadi kecaman para pihak serta memukau pihak yang lain. Anonymous mencapai status bak selebriti pada tahun 2008. Ketika itu, beredar sebuah video aktor Hollywood, Tom Cruise yang berbicara panjang lebar akan keyakinan Scientology yang dianutnya. Video tersebut diduga dibocorkan pihak-pihak tak bernama yang membuat para pemimpin Scientology marah besar.


Sebagai reaksinya, para pemuka agama tersebut berusaha melakukan hal yang mustahil dilakukan - menghapus video tersebut secara total dari internet. Dengan melakukannya, tindakan tersebut memicu kemarahan Anonymous, yang memandang upaya ini sebagai bentuk sensor besar-besaran dari sebuah lembaga. Ada juga anggota Anonymous yang keberatan dengan apa yang dipandang mereka sebagai sebuah kultus agama yang mata duitan. Dari situlah lahir Proyek Chanology. Anonymous mengumpulkan segala daya upayanya dengan berusaha menghilangkan jejak Scientology dari internet. Dalam sebuah tindakan yang kemudian akan menjadi ciri khas gerakan Anonymous, tujuan misi ini disebarkan melalui sebuah video Youtube.


Lalu mulailah serangan-serangan tersebut, diawali dengan serangan DDoS yang menggangu situs internet Scientology. Kemudian terjadi lelucon lewat telpon dan pemesanan pizza yang dikirim ke titik-titik Scientology di seluruh dunia, serta apa saja yang dapat mengganggu operasional sehari-hari. Oleh karena sebagian tindakan ini melawan hukum, maka konsekuensinya, tumbuh reputasi Anonymous sebagai pelanggar hukum dan suka main hakim sendiri. Akan tetapi pada satu titik, seorang kritik Scientology, Mark Bunker menghimbau Anonymous untuk menggunakan cara-cara tidak merusak dan yang sah menurut hukum untuk mencapai tujuannya.


Oleh karena sarannya, Anonymous bergeser dari tindakan melawan hukum, ke hal-hal yang tidak melanggar aturan. Dikirimnya para demonstran ke pusat-pusat Scientology, semuanya menggunakan topeng figur sejarah Guy Fawkes (seorang pemberontak Inggris), sehingga topeng ini menjadi ciri khas Anonymous. Topeng ini merupakan topeng yang sama digunakan dalam film "V for Vendetta" oleh karakter utama, yang kebetulan merupakan sebuah tokoh anonim yang menantang status quo. Dalam peristiwa Chanology ini, sudah mulai terlihat sebuah gerakan Anonymous yang bukan lagi mengandalkan lelucon-lelucon remaja. Anonymous menjadi sesuatu yang lebih serius, lebih fokus dan lebih berkuasa. Setelah dua tahun menyerang habis-habisan dalam Project Chanology, para Anon mulai bosan dan menghentikan kegiatan anti-Scientology mereka.


Operation Payback

Tekanan yang terus menerus dialami oleh WikiLeaks dan pendirinya, memicu aksi balas dendam yang dilakukan oleh para hacktivist (aktivis hacker). Kelompok hacker pendukung pendiri WikiLeaks Julian Assange melakukan serangkaian serangan cyber terhadap beberapa pihak yang dianggap mengambil sikap bermusuhan. Termasuk Kejaksaan Swedia. Situs-situs web yang dianggap memusuhi WikiLeaks, seperti PayPal, Swiss Bank PostFinance (postfinance.ch), situs resmi penuntut umum Assange di Swedia (aklagare.se), dan situs senator Lieberman (lieberman.senate.gov) yang secara vokal menentang Assange, berhasil mereka lumpuhkan melalui inisiatif yang mereka namakan: Operation Payback. "Tujuan Operation Payback bukan sekadar hacking untuk mencari keuntungan. Pada kasus ini, tujuan hacker adalah melumpuhkan layanan dan memprotes"


"Yang kami lihat di sini adalah serangan yang sangat fokus, untuk menjatuhkan server-server karena mengganggap ada ketidakadilan," ujar Noa Bar Yossef, pakar keamanan senior dari firma keamanan komputer Imperva, diberitakan PCWorld. Yossef juga mengatakan situs kejaksaan Swedia ‘secara instan’ tak dapat diakses karena ‘500 lebih zombie komputer menyerang secara bersamaan. Pakar keamanan dari Panda Blogs Sean-Paul Correl, mengungkapkan akibat serangan Operation Payback, situs PayPalBlog.com sempat down selama 8 jam 15 menit. Serangan memakai metode Distributed Denial of Services (DDoS/ DoS). Tidak seperti serangan DoS pada umumnya yang biasanya membombardir situs sasaran dengan ribuan atau bahkan ratusan ribu spam dari komputer-komputer PC yang telah ditulari dengan malware, menurut Bar Yossef, Operation Payback merekrut orang-orang dari dalam jaringan mereka untuk mengunduh kode program tertentu yang merupakan malware DoS itu sendiri. Maka, tidak ada mesin komputer yang menjadi korban (atau disebut sebagai botnet) karena pemiliknya terlibat secara sadar menjadikan komputer mereka sebagai botnet dan alat untuk membungkam pihak-pihak yang memusuhi WikiLeaks.


Seperti diketahui, sebelumnya PayPal membekukan rekening WikiLeaks sebesar 60 ribu Euro karena menganggap situs pembocor rahasia ini telah menyalahi kebijakan syarat penggunaan. Langkah yang sama, kemudian dilakukan oleh Swiss Bank Post Finance (layanan keuangan kantor pos Swiss), yang membekukan rekening dan aset WikiLeaks sebesar 31 ribu Euro. Akibat aksi pembekuan itu, setidaknya Assange dan WikiLeaks kehilangan sekitar 100 ribu Euro donasi dari orang-orang yang bersimpati. Mastercard dan VISA juga telah menutup layanan penyaluran donasi terhadap WikiLeaks. Padahal, di saat yang sama, menurut editor teknologi situs Guardian Charles Arthur baik Mastercard dan VISA, sama sekali tidak membekukan layanan donasi terhadap gerakan berbau rasis seperti Ku Klux Klan.


"Drama WikiLeaks tentu akan menjadi semacam perang cyber. dan perang semacam ini secara virtual tak bisa dimenangkan. Internet begitu dinamis. Tak mungkin menutup sebuah organisasi seperti WikiLeaks yang memiliki dukungan begitu populer. Hosting dan opsi pendanaannya secara virtual tak mungkin dihentikan," kata pendiri Antiwar.com Eric. WikiLeaks sendiri terus mengalami serangan cyber sejak Assange merilis dokumen AS beberapa waktu lalu. Hal tersebut memaksa WikiLeaks mengubah alamat dan servernya.

HGBary Federal

Kelompok hacker Anonymous melakukan aksi balas dendam kepada sebuah perusahaan keamanan komputer yang membantu polisi mengungkap jati diri anggota Anonymous. Sebelumnya, perusahaan keamanan komputer bernama HGBary Federal mengaku telah berhasil mengidentifikasi beberapa identitas hacker Anonymous dan berencana untuk menjual data itu kepada biro intelijen AS, FBI. Anonymous adalah kelompok hacktivist (aktivis hacker) yang selama ini getol membela WikiLeaks serta para aktivis oposisi di Mesir dan Tunisia. Kepada Financial Times bahkan Aaron Barr, Head of Security Services Firm, HBGary, menyebutkan beberapa nama yang ia klaim sebagai tokoh-tokoh senior di Anonymous, seperti orang bernama Q,, Owen, dan beberapa orang lain di Inggris, Jerman, Belanda, Italia, dan Australia.