Baigong Pipes

Beberapa waktu lalu, ilmuan dikejutkan dengan penemuan beberapa pipa besi kuno di sekitar Gunung Baigong, Provinsi Qinghai bagian barat, China, yang hampir seluruh wilayahnya tidak berpenghuni. Selain pipa besi misterius, para peneliti juga mengklaim telah menemukan struktur aneh yang lebih mirip dengan bentuk piramida tak jauh dari lokasi ditemukannya pipa besi tersebut di dekat tepi danau asin Toson. Menurut para peneliti, bangunan yang mirip piramida tersebut awalnya memiliki tiga pintu masuk seperti lubang goa dibagian sisinya, namun saat ini dua diantaranya sudah hancur dan tidak dapat diakses lagi karena tertutupi oleh reruntuhan. Sedangkan, pintu satunya yang masih tersisa digunakan oleh para peneliti sebagai pintu masuk menuju ke dalam gua. Disana mereka menemukan sisa – sisa potongan pipa logam di dinding dan lantai - lantai gua yang terdiri dari berbagai ukuran, mulai yang terbesar berdiameter 1,5 kaki hingga yang terkecil hanya seukuran tusuk gigi.


Beberapa arkeolog yang pernah mengunjungi Gunung Baigong sbelumnya, berspekulasi bahwa pipa tersebut kemungkinan merupakan pipa untuk menyuplai air menuju ke piramida. Teori ini tampaknya didukung juga dengan ditemukannya beberapa pipa - pipa besi di dekat tepi danau Toson. Pipa – pipa di danau itu juga memiliki diameter dan panjang yang berbeda - beda seperti di dalam gua , beberapa ada yang mencapai di atas permukaan air dan lainnya terkubur didalam tanah. Penasaran dengan penemuan artefak – artefak purbakala ini, Beijing Institute of Geology menganalisa pipa Baigong tersebut menggunaka teknik yang disebut thermoluminescence. Metode ini memungkinkan untuk menentukan kapan pipa tersebut terakhir kali mengalami suhu yang sangat tinggi. Hasil analisa menunjukkan bahwa pipa tersebut ternyata telah dibuat sejak 150.000 tahun yang lalu. Tentu saja temuan ini sangat membingugkan para peneliti, karna pada zaman itu manusia sama sekali belum mengenal logam.



Misteri lainnya yang lebih mencengangkan, analisis yang dilakukan langsung oleh para ilmuan dengan menggunakan teknologi paling canggih itu belum dapat menentukan bahan apa yang digunakan untuk membuat pipa misterius tersebut. Meskipun diketahui pipa tersebut terdiri dari oksidasi besi, silikon dioksida dan kalsium oksida, namun 8% juga berisi bahan aneh yang belum diketahui. Tidak mudah untuk menjelaskan penemuan yang membingunkan ini. Keberadaan manusia di wilayah itu terakhir kali ditelusuri adalah 30.000 tahun yang lalu, itupun sebagian besar dihuni oleh suku – suku nomaden. Jadi sangat tidak mungkin apabila masyarakat primitive seperti mereka bisa menciptakan struktur canggih semacam ini. Sejumlah teori telah dibuat dalam upaya untuk mencari penjelasan siapa yang bisa membangun pipa – pipa secanggih ini dan apa tujuan sebenarnya pipa itu dibuat. Salah satunya menyebutkan bahwa perabadan manusia maju yang sudah terlupakan dikala itu telah membangun fasilitas yang digunakan sebagai alat pendinginan, dan yang tersisa saat ini hanyalah bekas pipa – pipa aneh yang menuju ke danau.


Namun fakta yang lebih membingungkan lagi ternyata air di danau tersebut adalah asin. Meskipun ada sumber air tawar di sekitarnya, tidak ada satupun pipa yang mengarah ke sumber air tawar tersebut. Timbullah sebuah pertanyaan lagi, mengapa mereka memerlukan air asin bukannya air tawar? Satu jawaban yang cukup potensial adalah elektrolisis. Ketika arus listrik mengalir melalui air asin, maka hal itu akan mengurai air menjadi zat hidrogen dan oksigen. Produk semacam itu pastilah dimiliki oleh setiap pesawat terbang yang beroperasi di zaman modern seperti saat ini. Penjelasan – penjelasan diatas hanyalah merupakan teori atau dugaan – dugaan semata, entah siapa yang membangung pipa misterius tersebut sampai detik ini masih menjadi misteri.


Ollantaytambo

Ollantaytambo merupakan kompleks kuil besar, berlokasi di Lembah Sakral Inca di dekat Cuzco, di wilayah selatan Sierra di Peru. Batu-batu megalitik yang ditemukan di sana merupakan salah satu yang terbesar di planet bumi, beberapa di antaranya memiliki berat hingga seratus ton. Bagaimana manusia purbakala sanggup mendirikan bangunan luar biasa seperti itu masih menjadi misteri besar di antara para ahli yang tidak bisa menjelaskan teknik konstruksi bangunan yang digunakan dalam proses pembangunan. Terletak di dataran tinggi berketinggian 9.160 kaki (2.792 meter) di atas permukaan laut, Ollantaytambo benar-benar merupakan keajaiban teknik bangunan purbakala.


Belum ada satu pun yang bisa menjawab bagaimana manusia purbakala sanggup menggali, memindahkan dan menempatkan balok-balok batu megalitik ini ke posisinya. Namun, banyak ahli berpendapat kita mungkin sedang menyaksikan hasil karya teknologi canggih yang sudah “hilang” yang digunakan oleh peradaban purbakala itu ribuan tahun lalu. Di antara ciri-ciri paling mengagumkan, kita mendapati bentuk tepian sudut yang sempurna, potongan presisi yang mengingatkan kita akan peralatan laser modern, dan kesesuaian yang begitu sempurna di antara batu-batu yang tersusun rapi menjadi satu dengan cara sedemikian hingga bahkan selembar kertas pun tidak bisa disisipkan masuk ke antara celah-celahnya. Semua ciri-ciri ini membuktikan matematika dan geometri tingkat tinggi.



Namun, Ollantaytambo bukanlah satu-satunya situs purbakala di Amerika Selatan dimana kita dapat melihat keahlian bangunan batu (masonry) purbakala. Menariknya, ciri-ciri yang sama didapati juga di Puma Punku. Sama seperti situs-situs arkeologi purbakala lain di wilayah tersebut, Puma Punku membuktikan kecanggihan manusia purbakala ribuan tahun lalu. Mungkinkah penduduk Peru, Bolivia dan Mesir purbakala memiliki pengetahuan canggih dan teknologi yang memungkinkan mereka mendirikan situs-situs purbakala paling mengagumkan di planet ini? Menurut banyak peneliti, jawabannya adalah, “Ya.” Dan banyaknya gambar-gambar dan video-video dari situs-situs ini dan wilayah sekelilingnya merupakan bukti tak terbantahkan bahwa ribuan tahun lalu, peradaban purbakala memiliki pengetahuan dan peralatan superior yang memungkinkan mereka mendirikan situs-situs purbakala paling mengagumkan di planet bumi ini.


Salah satu bukti kecanggihan teknologi purbakala ini adalah lubang-lubang bor yang sangat presisi di dalam batuan andesit yang ditemukan di banyak situs. Bagaimana manusia purbakala bisa mengebor lubang yang nyaris sempurna ke dalam salah satu jenis batuan paling keras di planet ini? Apakah mereka melakukannya dengan memakai alat-alat primitif, seperti tongkat kayu dan batu seperti diperkirakan beberapa orang? Alternatifnya, mungkinkah di suatu saat, manusia purbakala memiliki akses kepada teknologi canggih yang memungkinkan mereka menciptakan bangunan-bangunan dan monumen-monumen yang luar biasa ini?


Dengan melihat gambar-gambar dari Puma Punku, Anda dapat memperhatikan kesempurnaan yang mencengangkan, Anda akan melihat keagungan di setiap konstruksi di Puma Punku, tapi yang paling menonjol, Anda akan melihat pola-pola misterius yang dapat menjelaskan bagaimana manusia purbakala sanggup mencapai semuanya ini ribuan tahun yang lalu. Menariknya, jika kita menjelajah separuh belahan dunia ke Mesir, kita akan melihat banyak bangunan purbakala sangatlah mirip dengan yang ditemukan di Puma Punku, Tiahuanaco, dan situs-situs di sekelilingnya. Misteri terbesarnya adalah bagaimana manusia purbakala zaman itu mencapai kemajuan teknologi seperti ini ribuan tahun lalu. Apakah ini bukti-bukti adanya teknologi canggih di zaman purbakala?