Tersesat Selama 5 Hari


Seorang wanita asal Amerika Serikat, Amber Vanhecke berumur 24 tahun tersesat selama 5 hari dan terdampar di daerah terpencil Grand Canyon. Wanita itu mengklaim, Google Maps membawanya ke jalur yang salah. Amber merasa dia akan mati lantaran semua perbekalan sudah habis. Ia bahkan sudah merekam pesan perpisahan di ponselnya. Cerita bermula ketika Amber melakukan solo traveling ke daerah perbukitan di Grand Canyon. Namun Google Maps mengarahkannya ke jalan yang tidak ada. Saat itulah situasi makin runyam, mobilnya mulai kehabisan bahan bakar serta sinyal ponsel menghilang. Amber mencoba menghubungi layanan darurat 911 tapi tidak berhasil.Pada hari ketiga Amber tersesat, ia semakin panik. Ia bahkan telah merekam pesan perpisahan jika sewaktu-waktu ia ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Segela perbekalan telah habis. Amber kemudian melakukan sesuatu pada hari keempat. Ia mengumpulkan batu dan menyusunnya menjadi tulisan ‘HELP’ di tanah. Namun semua itu percuma. Pada hari kelima, Amber memutuskan untuk mendaki dan keluar dari ngarai dengan harapan mendapatkan sinyal ponsel. Upaya Amber berhasil. Ia mendapatkan sinyal ponsel dan menedapatkan beberapa pesan masuk. Ia lantas menghubungi layanan darurat. Tak lama setelah itu, sebuah helikopter penyelamat melintas dan menemukan mobilnya. Amber akhirnya bisa diselamatkan setelah 119 jam tersesat. Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Texas itu mengalami dehidrasi yang parah
.Dua Rumah Hancur Porak Poranda

Sebuah buldozer miilik perusahaan penghancur rumah bernama Billy L. Nabors Demolition salah menghancurkan dua rumah. Mereka mengklaim hal itu terjadi akibat Google Maps salah menampilkan alamat rumah yang seharusnya dihancurkan. Billy L. Nabors Demolition seharusnya menghancurkan rumah yang berada di 7601 Coestau Drive di Rowlet, Texas, namun mereka malah menghancurkan rumah di 7601 dan 7603 di Calypso Drive yang berjarak satu blok dari alamat seharusnya.Para pekerja yang bertugas menghancurkan kemudian menyalahkan aplikasi Google Maps yang malah menunjukkan alamat ke 7601 dan 7603 Calypso Drive. Suzanne Webster sang pemilik rumah pun merasa terkejut karena rumah mereka dihancurkan begitu saja tanpa alasan yang jelas. Korban berikutnya, Lindsay Diaz yang rumahnya hancur akibat tornado pada Desember silam dan tengah menunggu perusahaan asuransi untuk memperbaikinya tak kalah terkejut dan merasa sedang dikerjai. Perusahaan penghancur rumah itu kemudian menyatakan kesalahan tersebut bukanlah sebuah hal besar. Namun, mereka tetap akan bertanggung jawab atas kesalahan tersebut.Perseteruan Perbatasan Antar Negara


Persoalan perbatasan memang menjadi isu sensitif antarnegara. Apa jadinya jika salah satu negara menggunakan layanan Google Maps untuk menyerang negara lain yang dianggap mencaplok wilayah kekuasaannya? Ini benar-benar terjadi antara negara Nicaragua Serang Costa Rica. Pasukan Nicaragua menyeberangi perbatasan dan memasuki wilayah Costa Rica kemudian mengibarkan bendera di negara itu. Menurut komandan pasukan Nicaragua, Eden Pastora kepada surat kabar La Nacion, dia menggunakan layanan Google Maps sebagai dasar serangan tersebut. Dari gambar yang muncul di layanan peta Google itu, justru negara Costa Rica-lah yang telah memasuki perbatasan Nicaragua.Persoalan batas negara yang ditampilkan dalam Google Maps ini kemudian menjadi serius sampai-sampai Sekretaris Jenderal Organisasi Negara- negara Amerika Jose Miguel Insulza bertemu dengan dua kepala negara tersebut untuk menyelesaikan masalah ini. “Kami sedang mencari solusi untuk mendamaikan dua negara ini,” kata Insulza dalam sebuah pernyataan. Namun Presiden Costa Rica, Laura Chinchilla berkukuh pasukan Nicaragua telah melanggar hukum perbatasan dan siap membawa masalah ini ke Dewan Keamanan PBB. Adapun analis Google Geopolicy, Charlie Hale mengakui memang terjadi kesalahan dalam menampilkan peta batas kedua negara itu. Kesalahan itu, kata dia, terletak pada penggambaran perbatasan di bagian pantai Karibia, dekat sungai San Juan.

Tertembak

Dua pasang turis, masing-masing asal Spanyol dan Argentina ditembak saat berada di wilayah favela, daerah kumuh di kota Rio De Janeiro. Penembakan tersebut berawal ketika dua pasang turis tersebut berjalan bersama mengunjungi daerah-daerah wisata di Rio De Janeiro. Namun karena tak hapal daerah setempat, keempatnya memilih menggunakan aplikasi Google Maps. Apesnya ternyata aplikasi peta tersebut menuntun mereka masuk ke favela yang terkenal akrab dengan tindakan kriminal. Secara tiba-tiba sekelompok orang menghampiri para turis tersebut, lalu menembaki kendaraan yang mereka tumpangi.Akibatnya, seorang turis bernama Natalia Lorena Cappetti berumur 42 tahun mendapatkan luka tembak di bagian punggung. Meski tim medis berhasil mengeluarkan peluru, namun Cappetti saat itu dikabarkan berada dalam kondisi kritis. Kepolisian setempat mengatakan, insiden tersebut terjadi sekitar pukul 15.00 di dekat Morro dos Prazeres favela. Aksi penembakan tersebut diduga dilakukan oleh para bandar narkoba yang ada di daerah tersebut. Morro dos Prazeres sebenarnya sudah menjadi momok di kalangan para turis. Pada bulan Desember silam, seorang warga Italia tewas usai ditembak oleh seorang bandar narkoba. Penyebabnya juga sama, yaitu karena tersesat usai mengikuti petunjuk GPS.