MANTAN personel duet T2 ini muncul di Hotel JW Marriot Jakarta dengan sebuah pengakuan.
Sudah setengah tahun, Prastiwi Dwiarti (29) alias Tiwi berpisah dengan suami, Shogo Sakuramoto. Shogo di Jepang, Tiwi tinggal di Jakarta bersama putranya, Reo Athar Sakuramoto. Pelantun “OK” dan “Brownis” ini buka kartu soal apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangganya.
“Sudah enam bulan menjalani rumah tangga jarak jauh dengan suami. Tidak ada istri yang ingin menjalani rumah tangga jarak jauh seperti ini. Saya kepikiran Reo. Dua bulan pertama berpisah dari ayahnya, dia selalu bertanya, 'Papa mana?'” papar Tiwi saat menghadiri seminar “The Miracle Root from Korea”, Selasa (17/11) lalu. Dalam seminar itu, Tiwi hadir mendampingi Prof. Dongkwon Rhee dari Universitas Sungkyunkwan dan Prof. Sei-Kwan Oh, Ph.D.

Sebagai istri, Tiwi berupaya memahami pekerjaan suami yang kini berada di ladang properti. Sikap pengertian bentuk terima kasih Tiwi mengingat suaminya pun tak pernah melarangnya berada di industri musik. Desember nanti, bulan yang paling dinantikan Tiwi dan Reo. Menjelang Natal, Shogo kembali ke Jakarta untuk merayakan pergantian tahun.
“Suami saya bukan tipe pencemburu. Sifat itu memudahkan kami menjalani rumah tangga jarak jauh. Selain itu, kami saling pengertian. Bahkan jika pada malam pergantian tahun nanti, saya ada show ke luar kota, suami tidak melarang,” Tiwi menukas.
Konsep hubungan jarak jauh justru membuat rumah tangga Tiwi dan Shogo minim konflik. Sisi negatifnya, sekalinya ada konflik, tak bisa diselesaikan secara tatap muka. Kalaupun bisa, lewat aplikasi video call.
Sementara Tiwi maunya menyelesaikan masalah secara tatap muka. Dengan tatap muka, ia bisa mendengar nada bicara dan menyaksikan ekspresi wajah pasangan secara langsung. Tantangan lain, menjawab pertanyaan si kecil mengapa ayah berbulan-bulan tidak pulang.
“Jika pertanyaan 'Papa mana?' muncul, saya menjawab, 'Papa sedang bekerja.’ Cukup berat, sih apalagi tanggal 17 Juli lalu Reo ulang tahun sementara papanya secara fisik tidak bisa hadir. Perlahan Reo bisa memaknai apa itu bekerja sebagaimana ibunya bekerja dengan menyanyi,” lanjutnya.
Pernah, suatu kali Shogo menghubungi Tiwi dan Reo melalui video call. Hari itu, ketika Sogho menyapa putranya, ia memalingkan wajah. Melihat sikap si kecil yang kurang hangat, Shogo khawatir Reo mulai melupakannya. Apalagi reaksi negatif si kecil itu berlangsung selama beberapa hari. Kalau sudah begini, Tiwi lagi-lagi menjadi mediator menjembatani dinginnya hubungan ayah dan anak.

“Saya meminta suami berpikir positif. Misalnya dengan berpikir bahwa sikap cuek Reo bentuk kemandirian. Reo sudah tidak lagi merisaukan ayahnya. Reo mencoba mandiri saat jauh dari ayahnya. Daripada Reo rewel merengek setiap hari, lebih baik sesekali cuek. Itu artinya, level drama Reo sudah menurun jika dibandingkan dengan sebulan pertama,” Tiwi menyambung obrolan.
Ia bersyukur, konflik-konflik yang terjadi sepanjang enam bulan terakhir masih bisa ditangani. Resepnya sederhana: menjaga komitmen demi tumbuh kembang anak.
“Suami bahkan tidak melarang saya berakting namun ia selalu mengingatkan pentingnya waktu buat si kecil. Saya lebih suka akting untuk FTV. Kalau sinetron harian saya pikir-pikir, karena waktu pasti banyak tersita di lokasi syuting, sementara saya ingin Reo bertumbuh di bawah pengawasan ibunya,” pungkasnya.