PDA

View Full Version : Cerita Ririn Ekawati tentang Anak yang Kritis, Bisnis, dan IMA 2015



sentimen
06-01-2015, 09:44 AM
http://media.mbigroup.co.id/files/thumb/6f9d53b26948e1d1f51d58df8e3edf96.jpg/700 Ririn Ekawati (Seno/tabloidbintang.com)







TABLOIDBINTANG.COM - MELIHAT makhluk tidak kasat mata bukan hal baru bagi Ririn. Meski demikian, nomine Pemeran Pendukung Wanita Terbaik Indonesian Movie Awards 2015 lewat film Di Balik 98 itu tidak kapok diajak main film horor lagi. Putri Ririn, Jasmine Salsabila Abeng (11) juga tidak keberatan.
“Jasmine sedang kritis-kritisnya. Saat menonton, melihat saya beradegan mesra dengan Dimas Seto dia bertanya: Mama, ini enggak sampai ciuman, kan? Mama enggak sampai buka baju, kan? Saya harus punya jawaban. Dia kelas 5 SD. Butuh ditemani. Itu sebabnya, tempo hari saya menolak tawaran syuting ke luar negeri karena harus meninggalkan rumah sebulan. Sutradaranya keren, naskah bagus. Tapi, anak adalah segalanya,” paparnya panjang. Lagi pula, pintu rezeki tidak hanya dari film.
Bulan lalu, bintang film Rindu Purnama itu merintis lini busana Rin Collection bersama adiknya, Rini Yulianti. Selain itu, membuka gerai florist Lore di dunia maya. Dua roda bisnis ini menggelinding lewat media sosial Instagram.
“Dulu pernah membuka restoran Petromax bersama Ririn Dwi Aryanti, Baim Wong, dan Lukman Sardi di Kemang, Jakarta Selatan. Karena sama-sama sibuk, kami menutup rumah makan itu setelah dua tahun beroperasi. Dalam bisnis, enggak ada yang mau rugi. Itu sebabnya bulan lalu saya menjajal bisnis online. Barangnya ada berdasarkan order,” Ririn menukas.
Seusai berbincang, kami menanyai Ririn terkait Indonesian Movie Awards 2015 yang dihelat di Balai Sarbini, Jakarta, belum lama ini.
Seperti diketahui, dia dinominasikan untuk Pemeran Pendukung Wanita Terbaik lewat film Di Balik 98. Ririn bersaing melawan Christine Hakim (Pendekar Tongkat Emas), Jajang C. Noer (Cahaya Dari Timur: Beta Maluku), Laura Basuki (Haji Backpacker), Marissa Anita (Selamat Pagi, Malam). Persaingan sengit itu dimenangkan Laura.
“Itu nominasi pertama saya setelah tujuh tahun berkarier. Bagi saya itu sebuah penghargaan. Yang menang Laura, teman saya sendiri. Untuk menghidupkan perannya, Laura les bahasa Mandarin. Dedikasinya layak diapresiasi. Selera juri sangat baik dan objektif,” tutupnya.